Pada 1789, seorang perempuan Afrika keturunan suku Khoikhoi yang disebut Sara “Saartjie” Baartman oleh penjajah Belanda lahir di Eastern Cape. Sejak muda, ia telah menjadi budak orang Eropa dan mengalami kekejian demi kekejian. Pada usia 16, tunangan Sara dibunuh oleh orang Belanda. Selanjutnya, ia tidak ubahnya sebagai properti yang dengan mudah dipindahtangankan dari satu orang Eropa ke orang Eropa lainnya.
Sekitar tahun 1810, seorang berkebangsaan Inggris, William Dunlop dan temannya, Hendrik Cesars memiliki ide membawa Sara ke Eropa. Mereka berpikir, dengan fitur tubuh perempuan Khoikhoi yang “unik”: berbokong superbesar dan bentuk alat kelamin memanjang, Sara akan menjadi daya tarik bagi warga Eropa. Hal ini potensial mendatangkan keuntungan. Lantas, Sara pun diboyong ke London dengan kapal.
Kisah hidup Sara di Eropa kemudian disampaikan oleh sutradara Zola Maseko lewat dokumenter The Life and Times of Sara Baartman (1998). Di sana diceritakan, Sara yang kemudian bernama panggung Hottentot Venus dijanjikan ketenaran dan uang, suatu hal yang jauh lebih baik dibanding tetap hidup sebagai budak di benua kelahirannya sendiri.
Narasi-narasi yang mengindikasikan Sara dengan sukarela mengiyakan pergi ke Eropa serta memiliki kehidupan layak di Eropa terus disuarakan oleh Dunlop dan Cesars. Sementara menurut pendapat sejumlah sejarawan yang dikutip dalam dokumenter tersebut, kenyataan yang ada justru berkebalikan dengan klaim dua orang Eropa ini.
Sara hidup menderita. Sejak freakshow yang menampilkan Baartman digelar, ia dipaksa-paksa dan mendapat ancaman bila tidak mau berlaku sesuai perintah tuannya. Sara bahkan ditempatkan di kandang dalamfreakshow tersebut. Ia mesti “bekerja” sejak jam 1 siang hingga 5 sore di Piccadily Circus, mempertontonkan tubuhnya yang tidak tertutupi pakaian di hadapan orang-orang kulit putih yang bertanya-tanya, “Apakah orang-orang Khoikhoi benar-benar manusia?”
Sementara sebagian orang kulit putih terkesima dan terhibur dengan penampilan Sara, sekelompok orang lainnya melihatfreakshow Sara adalah bentuk degradasi kemanusiaan. Tahun 1807, Inggris sebenarnya sudah menghapuskan perdagangan budak. Namun pada praktiknya, masih terlihat orang-orang kulit hitam yang melayani elit-elit Inggris.
Freakshow Sara pun dipandang sebagai bagian dari perbudakan yang semestinya tidak lagi terjadi. Maka, orang-orang dari African Institute dan kelompok abolisionis—orang yang pro-penghapusan perbudakan—mencoba mengadvokasi Sara dengan membawa kasusnya ke pengadilan.
Advokasi terhadap Sara juga dilakukan lewat pemberitaan The Times. Menurut The Life and Times of Sara Baartman, surat kabar itu melaporkan bahwa Sara dipertontonkan seperti binatang buas, diperintah-perintah dari luar kandang, lebih serupa beruang yang dirantai daripada manusia. Ketika Sara menolak perintah “pawangnya”, sang pawang menutup tirai lalu mengancam Sara di baliknya. Bahkan saat Sara sakit, ia tetap dipaksa menari demi memuaskan rasa penasaran orang-orang Eropa.
Yvette Abrahams, ahli sejarah dan profesor studi gender dan perempuan dari University of the Western Cape menyatakan, pada saat itu orang Khoikhoi yang dibawa ke Eropa tidak punya agensi untuk menentukan nasibnya. Untuk kasus Sara, klaim-klaim Dunlop dan Cesars bahwa Sara datang dengan sukarela makin tidak masuk akal karena saat itu Sara belum menginjak usia dewasa. Tidak mungkin ia bisa bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya.
Sejalan dengan pemikiran Abrahams, sejarawan lain yang berfokus pada isu Black British, Steve Martin mengungkapkan bahwa Sara tidak punya pilihan. Bila memutuskan pulang ke Afrika, ia akan kembali menjadi budak atau mati di tengah jalan. Pasalnya, ketahanan tubuh orang-orang pada masa itu belum seperti orang zaman sekarang, bisa saja ia mati terserang penyakit ketika menempuh perjalanan dengan kapal selama berbulan-bulan.
Setelah ke London, Sara sempat dibawa ke kota lain di Inggris, Bath, dan Limerick, Irlandia, demikian dicatat oleh Dr. Natasha Gordon-Chipembere, editor bukuRepresentation and Black Womanhood: The Legacy of Sarah Baartman (2011). Setelah pengadilan memutuskan freakshow Sara ilegal di Inggris karena mempertontonkan hal yang tak pantas, Cesars membawanya ke Perancis pada tahun 1814.
Di sana, ia dijual ke seorang pelatih hewan dan kembali dipertontonkan di Palais Royal, setiap hari sejak pukul 11 siang sampai 10 malam. Tidak hanya itu, Sara juga dijadikansurprise guest oleh elit-elit Perancis dalam pesta-pesta privat mereka.
Setahun berselang, Sara dikabarkan meninggal. Ada yang mengatakan ia mati karena penyakit yang diakibatkan kebiasannya minum-minum, ada pula yang mengabarkan ia mati karena perilaku seksualnya yang memicu sifilis. Menurut Gordon-Chipembere, pendapat-pendapat ini adalah bentuk viktimisasi Sara yang tidak pernah memilih sukarela untuk menjadi budak atau penampil freakshow.



0 Comments